BiPoin, Boltim – Di tengah kabar rencana penutupan lokasi tambang di Sungai Paret, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), kegelisahan menyelimuti warga yang selama ini menggantungkan penghasilan dari aktivitas di kawasan tersebut.
Pantauan awak media pada Selasa (13/10/2026) menyebutkan, alat berat jenis ekskavator mulai turun ke lokasi. Kehadiran alat berat itu menambah kekhawatiran warga yang kini dihadapkan pada ketidakpastian mata pencaharian.
Bagi sebagian masyarakat, persoalan ini bukan sekadar tentang berhenti atau berlanjutnya aktivitas tambang. Ada kebutuhan makan sehari-hari, biaya pendidikan anak, hingga tanggung jawab merawat orang tua yang sakit.
Di tengah situasi tersebut, satu pertanyaan terus membayangi mereka: jika tambang ditutup, dari mana mereka mendapatkan penghasilan untuk bertahan hidup?
Tangis Seorang Janda: “Kalau Ditutup, Kami Mau Makan Apa Besok?”
Kesedihan itu dirasakan Nur, seorang janda yang harus menghidupi dua anak yang masih bersekolah. Di saat bersamaan, ia juga memiliki tanggung jawab merawat orang tuanya yang sedang sakit.
Dengan suara penuh kesedihan, Meyvi mengungkapkan bahwa sebelum aktivitas tambang menjadi sumber penghasilan, dirinya hanya mengandalkan hasil menanam jagung. Namun, menurut pengakuannya, hasil pertanian tersebut tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya.
“Saya seorang janda dengan dua anak yang masih sekolah. Orang tua saya juga sedang sakit. Ke mana lagi saya harus mencari uang?” ungkap Meyvi dengan nada pilu.
Ia mengaku memahami bahwa aktivitas tambang yang dimaksud belum memiliki izin. Namun, keterbatasan pilihan pekerjaan membuat dirinya dan warga lain merasa kesulitan ketika menghadapi kemungkinan kehilangan sumber pendapatan.
“Kami tahu tambang ini belum berizin, tapi apa pilihan kami? Tolong pemerintah, jangan tutup dulu ini. Kalau ditutup, kami mau makan apa besok?” tuturnya.
Bagi Meyvi, permohonan tersebut bukan semata-mata keinginan untuk mempertahankan aktivitas tambang, melainkan gambaran kecemasan seorang ibu yang berusaha memastikan anak-anaknya tetap bisa makan dan bersekolah.
Setiap Hari Berendam di Sungai Demi Menyambung Hidup
Cerita serupa disampaikan Reni. Setiap pagi hingga siang, ia mengaku berendam di air sungai untuk mendulang sisa material yang dibuang ke kawasan tersebut.
Panas matahari maupun hujan menjadi bagian dari perjuangan hariannya. Pekerjaan itu dilakukannya demi mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
“Kami berendam di air ini setiap hari. Kadang gatal, kadang pegal, tapi apa lagi yang bisa kami lakukan? Hasilnya hanya cukup untuk makan. Kalau ada lebih sedikit, baru bisa untuk uang sekolah anak,” ujar Reni.
Ia menegaskan bahwa dirinya tidak mengejar kekayaan. Baginya, mendapatkan uang untuk membeli kebutuhan dapur dan membiayai pendidikan anak sudah menjadi harapan besar.
“Kami tidak meminta kaya. Kami hanya ingin bisa makan hari ini dan esok,” katanya lirih.
Pengakuan tersebut memperlihatkan beratnya kondisi sebagian warga yang mengandalkan pekerjaan harian dengan penghasilan tidak menentu. Ketika sumber pendapatan itu terancam hilang, kebutuhan dasar keluarga pun ikut berada dalam ketidakpastian.
Warga Memohon Pemerintah Hadir Mencari Jalan Keluar
Menghadapi rencana penutupan tersebut, warga berharap Kapolda Sulawesi Utara, Kapolres Bolaang Mongondow Timur, dan Bupati Bolaang Mongondow Timur dapat melihat langsung kondisi masyarakat di Sungai Paret.
Mereka meminta agar penanganan aktivitas tambang turut mempertimbangkan nasib warga kecil yang menggantungkan hidup dari pekerjaan tersebut.
“Kami adalah orang-orang miskin yang hanya ingin bertahan hidup. Kalau ditutup begitu saja tanpa ada pekerjaan pengganti, kami bisa kelaparan. Kasihan anak-anak kami. Mau makan apa besok?” demikian permohonan warga.
Bagi masyarakat, kehadiran pemerintah diharapkan bukan hanya untuk menegakkan aturan, tetapi juga memastikan bahwa keluarga yang kehilangan mata pencaharian tidak dibiarkan menghadapi kesulitan tanpa bantuan maupun alternatif pekerjaan.
Penegakan Hukum Harus Berjalan, Nasib Warga Jangan Diabaikan
Di satu sisi, penegakan hukum terhadap aktivitas pertambangan yang tidak memiliki izin merupakan persoalan yang tidak dapat diabaikan. Aspek legalitas, keselamatan pekerja, dan perlindungan lingkungan harus menjadi bagian penting dalam penanganan kawasan tambang.
Namun, di sisi lain, persoalan ekonomi warga juga membutuhkan perhatian serius.
Penertiban yang dilakukan tanpa langkah pendampingan sosial berpotensi menambah beban keluarga yang selama ini hidup dari penghasilan harian. Karena itu, pemerintah daerah bersama instansi terkait diharapkan dapat mengkaji langkah-langkah yang sesuai dengan hukum sekaligus membantu masyarakat memperoleh sumber penghidupan alternatif.
Pilihan tersebut dapat berupa pendataan keluarga terdampak, program pekerjaan sementara, pelatihan keterampilan, hingga dukungan bagi warga yang ingin kembali mengembangkan usaha pertanian atau pekerjaan lain yang legal.
Langkah-langkah itu tentu perlu disesuaikan dengan kondisi lapangan, kewenangan pemerintah, serta hasil pendataan kebutuhan masyarakat.
Jangan Biarkan Warga Memilih antara Perut dan Aturan
Persoalan Sungai Paret kini menjadi pengingat bahwa di balik aktivitas ekonomi yang menghadapi persoalan legalitas, terdapat kehidupan masyarakat yang membutuhkan solusi nyata.
Penegakan hukum dan perlindungan lingkungan tetap penting. Namun, upaya tersebut perlu berjalan beriringan dengan kebijakan yang memperhatikan kondisi sosial dan ekonomi warga terdampak.
Meyvi, Reni, dan warga lainnya tidak sekadar mengkhawatirkan berhentinya aktivitas tambang. Mereka mencemaskan kebutuhan makan esok hari, biaya sekolah anak, serta kemampuan memenuhi kebutuhan keluarga.
Kini, masyarakat menantikan langkah nyata dari pemerintah dan instansi terkait. Bukan untuk mengabaikan aturan, melainkan untuk memastikan bahwa penanganan masalah tambang juga disertai jalan keluar yang manusiawi.
Sebab, bagi warga Sungai Paret yang hidup dari penghasilan harian, pertanyaan paling mendesak bukanlah berapa lama mereka bisa bertahan tanpa tambang, melainkan bagaimana mereka bisa tetap makan, menyekolahkan anak, dan menjalani hidup ketika sumber penghasilan itu benar-benar berhenti.








