Perempuan, Tubuh, dan Kecantikan

oleh -73 views

BiPoin.com – Banyak perempuan sangat memikirkan kecantikan. Sesama perempuan bahkan sering menganggap perempuan lain sebagai saingan untuk mendapatkan pengakuan atas kecantikannya. Mengapa hal ini dapat terjadi?

Perempuan sejak kecil memang sudah dibentuk untuk memperhatikan penampilan fisiknya. Perempuan mendapatkan penguatan (reinforcement) untuk tampilannya yang menarik di mata orang lain. Kalimat-kalimat seperti, “Wah pitamu bagus ya,” atau “Kamu cantik sekali dengan gaun itu,” dan juga “Duh siapa yang kepang-in tuh rambutmu jadi manis begitu?” merupakan kalimat yang cukup sering terlontar dari mulut orangtua, saudara, tetangga, dsb kepada anak-anak perempuan.

Selain reinforcement dari lingkungan, media juga memiliki kekuatan luar biasa untuk mengkonstruksi kecantikan perempuan. Majalah-majalah menjejalkan perempuan dengan tips-tips kecantikan. Iklan produk kecantikan bertaburan di mana-mana, dengan cerita iklan tipikal : laki-laki akan menatap dengan penuh kekaguman pada perempuan yang kulitnya sudah berubah menjadi putih, yang rambutnya sudah menjadi indah, atau keriputnya sudah berganti dengan kulit kencang setelah penggunaan produk-produk ajaib itu.

Iklan-iklan semacam itu jelas memberikan vicarious reinforcement, yakni reinforcement yang sebenarnya diterima orang lain (model iklan) tetapi kita sebagai si pengamat ikut merasakannya. Hal ini memacu perempuan untuk membeli produk tersebut agar dapat mengalami sendiri reinforcement yang diterima si model dalam iklan tersebut. Dengan meminjam istilah Albert Bandura dalam teori belajar sosial (social learning theory), perempuan yang menyaksikan iklan itu meniru (modeling) perilaku si model iklan.

Iklan-iklan tersebut juga menampilkan model-model yang tipikal : muda, berkulit putih, berambut panjang, dan bertubuh seksi. Padahal jika kita mengacu pada prinsip distribusi normal dalam statistik, maka jumlah individu yang memiliki nilai rata-rata (dalam berbagai aspek yang diukur) adalah sebesar 68.26%. Individu yang memiliki nilai ekstrim tinggi atau rendah hanya ada sekitar 4.56%. Sisanya adalah mereka yang berada sedikit di atas atau di bawah rata-rata namun tidak ekstrim, kurang lebih sebesar 27.18%. Hal ini menunjukkan bahwa dalam realitas, sebesar 68.26% perempuan di dunia adalah perempuan yang tergolong rata-rata kecantikannya. Atau seperti yang dikatakan Rhoda Unger dan Mary Crawford, keduanya psikolog feminis, menampilkan model iklan dengan tipikal seperti di atas sesungguhnya tidak representatif.

Walhasil dengan bentukan-bentukan seperti itu, perempuan selalu berfokus pada tubuhnya. Perempuan sering merasa tidak nyaman dengan tubuhnya. Berbagai kamuflase dilakukan perempuan untuk menutupi bagian tubuhnya. Studi perilaku dengan observasi menunjukkan perempuan sering meletakkan tas di atas paha ketika duduk sehingga perutnya tertutup. Atau perempuan akan membawa buku dengan tangannya yang memegang buku diposisikan di bagian tubuh yang atas, karena mungkin tanpa sadar perempuan berusaha menutupi bagian dadanya.