Simone de Beauvoir, seorang feminis Perancis, sempat dikritik karena memiliki pandangan yang terkesan suram atas tubuh perempuan, dalam bukunya yang terkenal The Second Sex. Namun menurut saya, de Beauvoir hanya ingin memaparkan realitas betapa sejak kecil sampai lansia, perempuan senantiasa berurusan dengan tubuhnya.
Simak saja bagaimana setelah melewati masa kanak-kanak yang penuh dengan reinforcement-reinforcement untuk kecantikannya, perempuan akan memandang perubahan tubuhnya pada masa pubertas dengan lebih penuh keheranan dibanding laki-laki. Jika penis laki-laki hanya menonjol dalam kondisi tertentu, tidak demikian dengan payudara perempuan. Berbeda dengan mimpi basah yang sehabis bangun tidur pun segera berlalu, menstruasi memakan waktu kurang lebih tujuh hari. Jika cairan yang keluar saat mimpi basah tidak mempengaruhi komposisi substansi tubuhnya, saat menstruasi perempuan akan kehilangan sebagian darahnya yang tentu dapat mempengaruhi kondisi tubuh.
Ketika hamil, kepedulian perempuan pada tubuh akan semakin besar. Jamu, krim, pil, dan bahkan sekarang muncul dalam bentuk susu yang dipelopori Tropicana Slim dibuat untuk mengembalikan bentuk tubuh perempuan. Menyusui bayi menjadi pilihan yang kadang dilematis pada perempuan-perempuan yang mengkhawatirkan payudaranya tidak lagi indah.
Semakin bertambah usia, ketika kulit berkerut dan perut semakin berlemak, maka semakin banyak pernak-pernik yang akan digunakan perempuan untuk menutupi kekurangan tubuhnya itu. Perempuan berharap aksesoris itu dapat mengalihkan pandangan orang lain dari wajah dan tubuhnya. Pada saat yang sama, akan semakin tebal kosmetika dibubuhkan di wajahnya. Sampai-sampai kita mengenal stereotipe negatif ,” Ih dandanannya menor/medok (tebal) kayak tante-tante.” Dan ketika usia mulai menua, kata awet muda menjadi begitu indah di telinga perempuan.
Tidak heran jika perempuan menjadi target pasar yang paling berpotensi. Klinik kecantikan dan pelangsingan tubuh didirikan, dengan nama yang khas perempuan : Bella, Susan, dan Marie France Bodyline (bukan Susanto atau Pierre France Bodyline misalnya; Marie adalah nama untuk anak perempuan yang cukup populer di Perancis dan Pierre untuk anak laki-laki, Bella juga berarti cantik diambil dari belle dalam bahasa Perancis).
Berbagai kosmetika diproduksi dan tidak pernah tidak laku. Target pasarnya dimulai sejak remaja, sebuah tahap perkembangan transisi saat harga diri (self-esteem) cenderung berfluktuatif sehingga mudah dipengaruhi. Bahkan ada pula produk kecantikan yang ditujukan untuk anak-anak, misalnya sebuah perusahaan multilevel yang membuat lipstik khusus anak. Atau mungkin kita masih ingat dengan sebuah produk yang berbunyi, “Rambut kakak bagus.”
Kadang produknya mengandung kontradiksi, misalnya mengklaim produknya terbuat dari bahan-bahan tradisional untuk kecantikan perempuan Indonesia tetapi model iklannya adalah para gadis blasteran. Bahkan perusahaan kosmetika ini mengklaim produknya dengan nama yang cukup aneh di telinga saya : putih langsat. (Mengenai ke-putih-an ini dibahas oleh Aquarini Prabasmoro dalam bukunya Becoming White).
Simone de Beauvoir benar bahwa okupasi perempuan pada tubuhnya membuat waktu perempuan semakin terbatas untuk memikirkan hal lain atau melakukan aktivitas lain di luar perihal kebertubuhan. Waktu membaca misalnya, pada perempuan menjadi jauh lebih sedikit dibandingkan waktu yang diluangkannya untuk mengusapkan lotion pemutih, memoles bedak, mengulas maskara pada matanya, ataupun memilih busana yang hendak dikenakan.
Kebertubuhan perempuan dapat membawa dampak lain yang tidak kalah negatif. Anorexia dan bulimia nervosa, dua jenis gangguan makan yang tercatat dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), sebuah panduan gangguan psikiatris, merupakan gangguan yang boleh dikatakan ‘khas’ perempuan. Gangguan makan ini bukan hanya berbahaya secara psikologis, melainkan juga secara fisik dapat mengancam kematian. Diet ketat, bedah plastik, dan sedot lemak juga dapat mengancam nyawa perempuan. Rasa rendah diri, kecemasan, dan depresi banyak ditemukan pada perempuan dibandingkan laki-laki. Ditemukan pula bahwa ketiga kondisi ini banyak terjadi pada perempuan pasca melahirkan dan menopause.
Lantas salahkah perempuan? Sakitkah perempuan? Mengadopsi pandangan Alfred Adler, bukan perempuan yang salah, melainkan masyarakat. Bukan perempuan yang neurotik, melainkan budaya kita. Budaya kita telah mengkonstruksi perempuan menjadi objek tatapan laki-laki. Perempuan-perempuan ini bersusah payah menjadi ‘cantik’ untuk memuaskan pandangan laki-laki. Perempuan dididik untuk mengikuti keinginan dan harapan laki-laki.
Perempuan adalah korban dari budaya yang telah mengkonstruksinya menjadi perempuan narsis. Menurut Simone de Beauvoir, perempuan narsis menjadi obyek pentingnya sendiri. Ia percaya bahwa dirinya adalah obyek sebagaimana ditegaskan oleh orang di sekitarnya. Ia terpesona dan menjadi obsesif terhadap citranya sendiri : wajah, tubuh, dan pakaiannya. Adalah budaya patriarkis yang telah menggiring perempuan menjadi narsis dan neurotik.
Bahkan harus saya akui, terlahir sebagai perempuan dalam budaya yang telah dikonstruksi, hal-hal itupun sempat saya rasakan. Terkadang saya cemas ketika tiba-tiba rasanya sulit mengendalikan nafsu makan saya yang cukup besar, tiba-tiba pakaian mulai kesempitan, atau perut mulai membengkak. Kadang saya kesal dengan diri sendiri yang tidak pandai berdandan meski hanya sekedar mengulas maskara. Sampai akhirnya pada suatu titik saya berhenti dan bertanya pada diri sendiri, apakah saya mau menjadi korban budaya yang sakit ini?
Namun tentunya kita tidak hanya berhenti pada menyalahkan budaya yang telah menyuburkan reinforcement terhadap kebertubuhan perempuan. Konstruksi budaya semacam ini seharusnya didekonstruksi. Saya melihat sudah mulai ada iklan-iklan produk yang cukup baik dalam mendekonstruksi kecantikan perempuan. Dove misalnya yang menampilkan bintang iklan yang adalah perempuan ‘biasa’. Dove juga menampilkan model tidak hanya dengan satu jenis rambut, yaitu rambut panjang nan lurus. Namun dalam iklan Dove ada rambut ikal, berombak, lurus, panjang, dan pendek.
Body Shop juga cukup konsisten dalam mendekonstruksi kecantikan perempuan. Dalam sebuah produknya, Body Shop menggunakan model iklan berkulit coklat dengan perut yang tidak sedatar perut perempuan dalam iklan-iklan produk lain. Body Shop juga pernah mengeluarkan slogan yang kurang lebih berbunyi,”Tidak harus putih dan langsing untuk menjadi cantik.” Slogan tersebut menyertai gambar perempuan bertubuh gemuk. Semoga saja ada produk-produk lain yang mau mengikuti jejak kedua produk ini sehingga kecantikan perempuan dapat didefinisikan ulang. Bahkan sebaiknya maknanya diperluas hingga melampaui kebertubuhan.








