Pengamat Ekonomi Prediksi Harga Emas Tembus Rp 1 Juta Akibat Wabah Virus Corona

oleh

BiPoin, JAKARTA–  Wabah Virus Corona (Covid-19) merupakan virus mematikan yang muncul pertama kali di Kota Wuhan, Tiongkok sejak Desember 2019 lalu. Akibat wabah mematikan ini, sejumlah negara di dunia mulai menutup akses perjalanan antar negara termasuk wisatawan asal Cina. 

Namun siapa sangka kalau virus yang menyebabkan lebih dari 1500 warga Tiongkok meninggal ini, ternyata sangat mempengaruhi ekonomi global. Salah satunya harga emas yang kian meroket. 

Menurut Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi, kenaikan harga emas saat ini disebabkan oleh perekonomian global yang tidak menentu akibat wabah virus corona (Covid-19) di Cina. Hal ini tentu saja berdampak pada pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat. 

Ia menduga, harga logam mulia tersebut pada tahun 2020 akan terus meningkat  hingga menyentuh level Rp 1 juta per gram.

“Nah pelemahan mata uang rupiah akan kembali ke Rp 14 ribu dan ini akan diuntungkan untuk orang melakukan invetasi emas, karena logam mulia bisa kembali naik dan bisa saja logam mulia bisa kembali ke 1 juta per-gramnya,” Ujar Ibrahim sebagaimana dikutip dari Tempo Media. 

Ini juga bisa dilihat dari harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk. (ANTAM) atau emas Antam, yang mencapai harga Rp 804 ribu per gram atau berada pada level tertinggi sejak 23 Februari 2020.

Ibrahim mengatakan, aksi Bank Indonesia (BI) pada beberapa hari lalu yang menurunkan tingkat suku bunga acuannya menjadi 4,75 persen ini belum sanggup untuk membuat rupiah menjadi perkasa. Oleh karena itu, melemahnya rupiah bisa membuat harga emas semakin tinggi.

“Nah ini wajar harga emas cenderung mengalami penguatan,” ucapnya.

Faktor lain menguatnya harga emas karena mewabahnya virus corona dibeberapa negara selain Cina, seperti Korea Selatan, Jepang, dan Filipina.

“Nah tingkat Asia ini sudah sangat luar biasa, bahkan sampai saat ini WHO berfokus kepada apa yang terjadi di Korea Selatan yang sudah mengakibatkan begitu banyak merasakan dampaknya, di sisi lain pun negara-negara di luar Tiongkok telah terimbas terkena virus (Corona),” katanya.

Pun, Ibrahim menduga lamanya wabah virus corona ini akan berlangsung selama satu semester atau hingga periode tahun 2020.

“Kemungkinan besar pada Q1 dan Q2 pertumbuhan ekonomi global tidak sesuai dengan ekspektasi bank dunia maupun IMF,” ujarnya.

Padahal jika dilihat problem perekonomian global sudah mereda pasca perang dagang antara Amerika dan Cina. Dimana kedua negara tersebut telah melakukan teken perjanjian fase awal. 

“Tapi kenyataannya setelah virus corona menyebar ini mengakibatkan pertumbuhan ekonomi global terus mengalami perlambatan, sehingga ada dugaan virus corona lebih jahat dibandingkan perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok,” tuturnya.

Oleh karena itu ia berharap kepada Bank Sentral negara-negara  maju bisa menggelontorkan stimulus guna memukul kembali dampak virus corona bagi perekonomian.

Sumber: Tempo